Pengertian Liturgi: Panduan Lengkap dari Sejarah hingga Maknanya
Liturgi adalah perayaan iman resmi yang dilakukan oleh komunitas Gereja, yang pada hakikatnya merupakan partisipasi dalam karya keselamatan Allah melalui Yesus Kristus. Istilah yang sering terdengar di dalam gereja ini seringkali disalahartikan sebatas tata cara atau serangkaian ritual ibadah. Namun, makna liturgi jauh lebih dalam dan mendasar bagi kehidupan umat Kristiani.
Artikel ini akan mengupas secara komprehensif pengertian liturgi, mulai dari asal-usul katanya, maknanya dalam Alkitab, hingga hakikatnya sebagai sumber dan puncak kehidupan Gereja. (Untuk pemahaman lebih lanjut, Anda dapat merujuk pada dokumen Gereja seperti Katekismus Gereja Katolik). Dengan memahami apa itu liturgi secara utuh, kita dapat menghayati setiap perayaan dengan iman yang lebih mendalam.
Asal-Usul Kata "Liturgi": Dari Pelayanan Publik Menjadi Ibadah Ilahi
Untuk memahami makna liturgi gereja, kita perlu menelusuri akarnya. Istilah "liturgi" berasal dari kata Yunani, leitourgia. Kata ini merupakan gabungan dari dua kata:
- Leitos (dari kata laos), yang berarti "rakyat" atau "publik".
- Ergon, yang berarti "karya" atau "pekerjaan".
Secara harfiah, leitourgia berarti "pekerjaan untuk rakyat" atau "pelayanan publik". Pada zaman Yunani Kuno, makna kata ini bersifat profan-politis, bukan religius. Istilah ini digunakan untuk menunjuk pada pelayanan atau kerja bakti yang dilakukan oleh warga negara yang kaya untuk kepentingan umum, seperti membiayai pementasan drama, membangun fasilitas publik, atau membayar pajak.
Baru pada abad ke-2 SM, ketika Kitab Suci Ibrani (Perjanjian Lama) diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani (dikenal sebagai Septuaginta), kata leitourgia mulai mendapatkan makna religius.
Makna Liturgi dalam Konteks Alkitab
Pergeseran makna leitourgia dari pelayanan sipil menjadi ibadah ilahi menjadi semakin jelas di dalam Alkitab, baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru.
Dalam Perjanjian Lama
Dalam terjemahan Septuaginta, kata leitourgia digunakan sekitar 170 kali untuk merujuk pada ibadat keimaman yang resmi. Secara spesifik, istilah ini menunjuk pada pelayanan kultis yang dilakukan oleh para Imam dari suku Lewi di Bait Allah demi kepentingan seluruh umat Israel. Ini adalah tugas suci yang ditetapkan oleh Allah sendiri.
Dalam Perjanjian Baru
Di dalam Perjanjian Baru, makna liturgi menjadi lebih luas dan kaya. Kata ini muncul sebanyak 15 kali dengan berbagai variasi arti.
- Pelayanan Imamat Kristus: Surat kepada Jemaat Ibrani menggunakan kata leitourgia untuk menjelaskan pelayanan imamat Yesus Kristus yang jauh lebih agung daripada imamat Perjanjian Lama (Ibrani 8:6). Kristus adalah satu-satunya pelayan (leitourgos) sejati yang mempersembahkan kurban sempurna.
- Perayaan Ibadat Jemaat: Dalam Kisah Para Rasul 13:2, kata ini untuk pertama kalinya digunakan untuk menunjuk pada perayaan ibadat jemaat perdana. Teks ini berbunyi, "Pada suatu hari ketika mereka beribadah (leitourgein) kepada Tuhan dan berpuasa..." Ini adalah penggunaan kata liturgi yang paling mendekati pengertian kita saat ini.
- Pelayanan Kasih dan Pewartaan Injil: Rasul Paulus memperluas makna liturgi hingga mencakup pelayanan kasih, seperti pengumpulan dana bagi jemaat yang miskin (Roma 15:27). Ia bahkan menyebut dirinya sebagai pelayan (leitourgos) Kristus dalam tugas pewartaan Injil (Roma 15:16).
Dari sini terlihat bahwa dalam Perjanjian Baru, liturgi adalah pelayanan yang utuh kepada Allah dan sesama, tidak hanya terbatas pada ritual ibadah.
Hakikat Liturgi: Puncak dan Sumber Kehidupan Gereja
Bukan Sekadar Ritual, Tetapi Karya Kristus
Poin terpenting dalam memahami apa itu liturgi adalah bahwa liturgi bukanlah buatan manusia semata. Liturgi adalah partisipasi dalam karya keselamatan dan tugas imamat Yesus Kristus. Ini bukan sekadar upacara yang kita lakukan untuk Tuhan, melainkan tindakan Kristus sendiri yang berkarya di dalam dan melalui Gereja-Nya.
Perayaan liturgi adalah karya dari "Kristus seutuhnya" (Christus totus), yaitu Kristus Sang Kepala bersama dengan Tubuh-Nya, yakni Gereja. Saat Gereja berkumpul untuk merayakan liturgi, Kristus sendiri hadir dan berkarya untuk menguduskan umat-Nya dan memuliakan Allah Bapa.
Liturgi sebagai Puncak (Culmen) Kehidupan Gereja
Sacrosanctum Concilium menegaskan bahwa liturgi adalah "puncak yang dituju oleh kegiatan Gereja". Artinya, semua aktivitas Gereja—seperti katekese (pengajaran iman), evangelisasi (pewartaan Injil), dan pelayanan sosial (diakonia)—pada akhirnya diarahkan menuju satu tujuan: perayaan liturgi.
Di dalam liturgilah, terutama dalam Perayaan Ekaristi (Perjamuan Kudus), kita bersatu secara paling intim dengan Kristus. Semua usaha dan pelayanan kita sepanjang minggu menemukan puncaknya saat kita berkumpul sebagai satu Tubuh Kristus untuk merayakan karya penyelamatan-Nya.
Liturgi sebagai Sumber (Fons) Kehidupan Gereja
Selain menjadi puncak, liturgi juga merupakan "sumber segala daya kekuatan" Gereja. Dari liturgi, bagaikan dari sebuah mata air, mengalirlah rahmat dan kekuatan ilahi bagi umat beriman.
Setelah "dipuaskan dengan sakramen-sakramen Paskah", umat didorong untuk mengamalkan dalam kehidupan sehari-hari apa yang telah mereka peroleh dalam iman. Dengan kata lain, perjumpaan dengan Tuhan dalam liturgi membekali kita dengan kekuatan rohani untuk menjalankan misi kita sebagai orang Kristen di tengah dunia sepanjang minggu. Ekaristi, secara khusus, menjadi sumber dan pusat seluruh kehidupan Kristiani.
Apa Tujuan Utama Perayaan Liturgi?
Berdasarkan hakikatnya sebagai karya Kristus dan perjumpaan dengan Allah, perayaan liturgi memiliki dua tujuan utama yang tak terpisahkan:
- Memuliakan Allah: Tujuan paling utama (dimensi anabatis atau "gerakan ke atas") adalah untuk menyembah, memuji, bersyukur, dan memuliakan Allah Bapa, melalui Kristus, dalam Roh Kudus atas karya penyelamatan-Nya yang agung.
- Menguduskan Manusia: Secara bersamaan (dimensi katabatis atau "gerakan ke bawah"), melalui tanda-tanda dan simbol-simbol suci, Allah mencurahkan rahmat-Nya untuk menguduskan umat-Nya. Dalam liturgi, iman kita diteguhkan, dosa-dosa kita diampuni, dan kita diperkuat untuk bertumbuh dalam kekudusan.
Tanya Jawab Seputar Liturgi (FAQ)
Untuk memperjelas pemahaman, berikut adalah jawaban atas beberapa pertanyaan yang sering muncul mengenai liturgi.
Apa bedanya liturgi dengan ibadah biasa?
Liturgi berbeda dari ibadah biasa atau devosi pribadi dalam beberapa hal kunci. Liturgi bersifat resmi (diatur oleh otoritas Gereja), publik (dirayakan atas nama seluruh Gereja, bukan perorangan), dan memiliki struktur baku yang berpusat pada misteri Kristus. Ibadah biasa atau doa pribadi bisa lebih informal, fleksibel, dan bersifat personal.
Siapa yang merayakan liturgi?
Liturgi dirayakan oleh seluruh Gereja, yakni "Kristus seutuhnya" (Christus totus). Ini berarti bukan hanya imam, pendeta, atau pelayan khusus yang merayakannya, melainkan seluruh umat beriman yang hadir. Setiap orang mengambil bagian secara aktif sesuai dengan peran dan fungsinya masing-masing dalam persekutuan umat.
Apa saja unsur-unsur penting dalam liturgi?
- Sabda Tuhan: Pembacaan Alkitab dan khotbah yang menjelaskannya merupakan bagian sentral.
- Doa dan Pujian: Doa-doa bersama, litani, dan nyanyian pujian sebagai respons umat kepada Allah.
- Tanda dan Simbol: Penggunaan elemen-elemen material seperti air (dalam baptisan), serta roti dan anggur (dalam Ekaristi/Perjamuan Kudus) sebagai sarana rahmat yang kelihatan.
- Persekutuan Umat: Liturgi selalu bersifat komunal; pertemuan umat beriman sebagai Tubuh Kristus adalah unsur esensial.
Kesimpulan
Pada akhirnya, pengertian liturgi melampaui sekadar definisi tata ibadah. Liturgi adalah jantung kehidupan Gereja; sebuah perjumpaan yang hidup dan dialogis antara Allah dan umat-Nya. Ia adalah karya agung Kristus yang terus berlanjut di tengah kita, menjadi puncak tujuan segala pelayanan kita dan sumber kekuatan untuk kehidupan Kristen sehari-hari.
Dengan memahami kekayaan makna liturgi, kita diundang untuk tidak lagi menjadi penonton pasif, melainkan peserta aktif yang menghayati setiap momennya. Semoga setiap perayaan liturgi yang kita ikuti membawa kita pada perjumpaan yang lebih personal dengan Tuhan dan memperbarui semangat kita untuk menjadi saksi-Nya di dunia.
Bagikan artikel ini kepada teman atau komunitas Anda agar semakin banyak yang memahami kekayaan makna liturgi!



Posting Komentar untuk "Pengertian Liturgi: Panduan Lengkap dari Sejarah hingga Maknanya"